Jakarta – Peneliti Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, mengingatkan bahwa pemerintah perlu segera menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas agar tidak kalah oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini sudah mulai mengancam lapangan kerja yang tersedia bagi kaum muda secara signifikan.
Dampak AI terhadap Pekerjaan di Korea Selatan
Peringatan ini muncul setelah melihat fenomena yang terjadi di Korea Selatan. Laporan Bank of Korea (BOK) pada 18 Agustus 2026 menunjukkan bahwa sebanyak 285 ribu pekerjaan untuk pemuda telah hilang dalam empat tahun terakhir. Dari angka tersebut, sekitar 94 persen atau 268 ribu posisi berada di sektor-sektor yang memiliki tingkat paparan AI yang tinggi.
Data dari BOK yang mengacu pada catatan National Pension Service (NPS) Korea Selatan dan survei tenaga kerja aktif menjadi sinyal penting bagi Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena yang sama bisa saja terjadi di tanah air jika tidak ada tindakan yang tepat.
Pekerjaan Entry Level Terancam
Menurut Rendi, pekerjaan pada level awal, yang seringkali menjadi pintu gerbang karier bagi para pemuda, adalah yang paling berisiko terdampak. “Melihat apa yang terjadi di Korea Selatan, ada sinyal penting bagi Indonesia. Penurunan jumlah pekerjaan bagi anak muda banyak terjadi di sektor-sektor yang terpapar AI secara tinggi, seperti pemrograman dan layanan profesional. Pekerjaan dasar seperti pengolahan data sederhana dan penulisan dokumen, yang biasanya menjadi langkah awal bagi pekerja muda, semakin mudah untuk diotomatisasi,” ungkap Rendi pada Koran Jakarta, Jumat (21/8).
Menariknya, di sektor yang sama, jumlah pekerja berusia lima puluhan justru meningkat. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mereka yang lebih baik dalam menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas.
Perbedaan Struktur Ekonomi Indonesia dan Korea Selatan
Rendi menjelaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia berbeda dengan Korea Selatan. Tingkat pengangguran di kalangan pemuda di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan angka nasional, dan proporsi lulusan perguruan tinggi di antara penganggur juga cenderung meningkat.
“Jika AI mulai mengisi posisi di bidang administrasi, layanan pelanggan, analisis data dasar, hingga pemrograman, maka peluang untuk posisi entry level yang selama ini menjadi awal karier akan semakin terbatas. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi,” ujarnya.
Ketergantungan pada Sektor Tertentu
Rendi juga menambahkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada sektor pertanian, manufaktur yang padat karya, dan sektor informal. Ketergantungan ini memberikan sedikit waktu untuk beradaptasi, tetapi jika perusahaan lebih memilih untuk mengganti tenaga kerja dengan AI alih-alih meningkatkan produktivitas, proses tersebut dapat mengakibatkan pembekuan perekrutan dan berkurangnya kesempatan bagi anak muda untuk mendapatkan pengalaman kerja.
AI Bukan Satu-Satunya Penyebab Pengangguran
Rendi menekankan bahwa AI bukanlah satu-satunya penyebab hilangnya lapangan kerja. Terdapat berbagai faktor lain seperti demografi, kesenjangan pendidikan, dan perubahan pola rekrutmen yang juga memperburuk situasi bagi tenaga kerja muda.
Karena itu, dia mendorong perlunya perubahan dalam sistem pendidikan agar lebih fokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, literasi data, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Insentif untuk Perusahaan
“Penting untuk memberikan insentif kepada perusahaan agar mereka mau merekrut dan melatih pekerja muda. Hal ini penting agar AI tidak hanya dijadikan alat substitusi, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja,” tegas Rendi.
Dia menutup dengan peringatan bahwa jika tidak ada kebijakan antisipatif, Indonesia berpotensi mengalami penyempitan kesempatan kerja bagi generasi mudanya, mirip dengan yang dialami Korea Selatan, meskipun dalam konteks ekonomi yang berbeda.
Langkah-Langkah Antisipatif yang Dapat Diambil
Untuk menghadapi ancaman AI terhadap pekerjaan, Indonesia harus mengambil langkah-langkah strategis. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil:
- Mengembangkan kurikulum pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri.
- Mendorong kolaborasi antara sektor pendidikan dan dunia usaha.
- Memberikan pelatihan dan sertifikasi untuk keterampilan yang dibutuhkan di era digital.
- Mendukung inovasi dan kewirausahaan di kalangan anak muda.
- Menetapkan regulasi yang mendukung pertumbuhan pekerjaan di sektor-sektor yang kurang terpapar AI.
Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi dan memastikan bahwa generasi muda memiliki peluang yang cukup untuk meraih kesuksesan di dunia kerja.
Membangun Kesadaran dan Kesiapan SDM
Selain perbaikan dalam sistem pendidikan, membangun kesadaran di kalangan pemuda tentang pentingnya keterampilan digital dan adaptasi teknologi juga sangat penting. Program-program sosialisasi yang melibatkan komunitas, sekolah, dan perguruan tinggi dapat membantu meningkatkan pemahaman mereka mengenai dunia kerja yang terus berubah.
Selain itu, dukungan dari pemerintah dalam bentuk program pelatihan, seminar, dan workshop yang fokus pada keterampilan baru akan sangat bermanfaat. Ini akan memberikan anak muda kesempatan untuk belajar langsung dari para ahli dan praktisi di bidangnya.
Peran Sektor Swasta
Sektor swasta juga memiliki peran krusial dalam memperkuat kesiapan SDM. Perusahaan harus proaktif dalam mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan di masa depan dan berkolaborasi dengan institusi pendidikan untuk menciptakan program pelatihan yang sesuai.
Bukan hanya itu, perusahaan juga harus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran dan pengembangan karyawan. Dengan memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, perusahaan dapat membantu menciptakan tenaga kerja yang lebih kompetitif dan siap menghadapi tantangan di era AI.
Meminimalisir Mismatch Keterampilan
Satu tantangan besar yang dihadapi oleh tenaga kerja muda adalah mismatch antara keterampilan yang dimiliki dan yang dibutuhkan oleh industri. Untuk mengatasi hal ini, penting bagi institusi pendidikan untuk terus beradaptasi dan memperbarui kurikulumnya sesuai dengan perkembangan terbaru di dunia kerja.
Institusi pendidikan juga harus lebih berfokus pada pengembangan soft skills, seperti kemampuan komunikasi dan kerja tim, yang sering kali menjadi faktor pembeda dalam proses rekrutmen. Keterampilan ini akan membantu anak muda untuk lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja yang dinamis.
Mendorong Inovasi dan Kewirausahaan
Kewirausahaan harus didorong sebagai salah satu solusi untuk menciptakan lapangan kerja baru. Program-program yang mendukung anak muda untuk memulai usaha mereka sendiri dapat memberikan alternatif bagi mereka yang kesulitan menemukan pekerjaan. Ini juga akan membantu menciptakan ekosistem yang lebih inovatif dan berdaya saing.
Dengan memberikan akses ke sumber daya dan dukungan yang dibutuhkan, pemerintah dan sektor swasta dapat mendorong generasi muda untuk berani mengambil risiko dan mencoba hal baru. Ini bukan hanya akan menciptakan pekerjaan bagi mereka, tetapi juga meningkatkan ekonomi secara keseluruhan.
Kesimpulan
Dengan ancaman AI yang semakin nyata, Indonesia harus bersiap menghadapi perubahan yang akan datang. Melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan SDM yang unggul. Hanya dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya selamat dari ancaman AI, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas mereka di masa depan.
➡️ Baca Juga: TASPEN Perkuat Komitmen Anti Gratifikasi Menjelang Idulfitri 1447 H
➡️ Baca Juga: Harga Wuling Eksion: SUV BEV dan PHEV Dimulai dari Rp 389 Juta di Indonesia
