Tradisi Cheng Beng Tingkatkan Persatuan di Bangka Belitung, Gubernur Soroti Nilai Kebersamaan

Tradisi Cheng Beng telah menjadi bagian integral dari budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pandangan Gubernur Hidayat Arsani, tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan simbol penghormatan yang mendalam terhadap leluhur, orang tua, dan kerabat yang telah berpulang. Dengan makna yang dalam, Cheng Beng menjadi sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan di antara keluarga dan komunitas.
Makna di Balik Tradisi Cheng Beng
Gubernur Hidayat Arsani menjelaskan bahwa Cheng Beng lebih dari sekadar tradisi budaya. Ini adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh nenek moyang. “Cheng Beng mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan, kebersamaan, dan kepedulian sosial,” tambahnya. Momen ini bukan hanya tentang mengenang yang telah tiada, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Puncak dari perayaan Tradisi Cheng Beng biasanya berlangsung pada tanggal 4 atau 5 April, dan menjadi momen yang sangat dinanti-nanti oleh masyarakat. Sebelum puncak perayaan, kegiatan membersihkan makam leluhur telah dilakukan dua minggu sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini sangat dihargai dan diikuti dengan penuh kesadaran oleh masyarakat.
Peran Tradisi dalam Mempererat Hubungan Keluarga
Selama perayaan, sanak saudara dari berbagai kalangan, baik yang tinggal di dalam maupun luar negeri, biasanya pulang untuk berkumpul. Ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menghormati dan mendoakan para leluhur serta orang-orang terkasih yang telah pergi. Gubernur Hidayat menekankan, “Ini adalah cara kita mengenang jasa, doa, dan kasih sayang yang mereka berikan.” Dengan berkumpulnya keluarga, tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik antar anggota keluarga.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Cheng Beng
Lebih jauh, Gubernur juga mengungkapkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Cheng Beng berfungsi sebagai perekat persaudaraan. Tradisi ini mengajarkan kita untuk:
- Menghargai sejarah keluarga
- Menjaga silsilah keluarga
- Memelihara rasa bakti kepada orang tua
- Menjunjung tinggi kehormatan keluarga
- Membangun rasa kepedulian sosial
“Momen ini mengingatkan kita untuk selalu saling menghargai dan memperkuat tali silaturahmi antara keluarga dan komunitas,” ujar Gubernur. Menurutnya, kekuatan persatuan terletak pada kemampuan untuk merayakan tradisi yang telah ada, yang pada gilirannya dapat membantu mempersatukan masyarakat Bangka Belitung menjadi lebih baik.
Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya
Gubernur Hidayat Arsani sangat mengapresiasi usaha masyarakat dalam melestarikan warisan budaya ini dari generasi ke generasi. Keberagaman tradisi dan budaya di Bangka Belitung merupakan aset berharga yang perlu dijaga. “Semoga melalui perayaan Cheng Beng, nilai-nilai bakti, hormat, dan persaudaraan semakin tertanam kuat di hati kita semua,” tambahnya. Ia berharap tradisi ini dapat menjadi sarana untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis, damai, dan sejahtera.
Festival Cheng Beng bukan hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga melibatkan seluruh lapisan masyarakat di Bangka Belitung. Gubernur menyatakan, “Festival ini dari rakyat dan untuk rakyat,” menekankan pentingnya partisipasi semua pihak dalam merayakan tradisi ini.
Antusiasme Masyarakat terhadap Tradisi Cheng Beng
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, juga mencerminkan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi terhadap perayaan Cheng Beng. “Kemeriahan perayaan ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat menghargai tradisi ini,” ungkapnya. Selain sebagai momen menghormati leluhur, perayaan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempererat hubungan antar warga.
Peluang Destinasi Pariwisata
Saparudin berharap, dengan keberadaan Makam Sentosa yang luasnya hampir 40 hektar dan merupakan salah satu pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, lokasi ini bisa terdaftar sebagai destinasi pariwisata. “Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam budaya Tionghoa di Indonesia,” ujarnya.
Perayaan Multikultural di Bangka Belitung
Anggota Komisi I DPR Republik Indonesia, Rudianto Tjen, juga menyoroti bahwa perayaan Cheng Beng bukanlah sekadar acara rutin, melainkan dirancang sebagai sarana hiburan dan untuk mempererat silaturahmi antar seluruh lapisan masyarakat. Ia mengapresiasi keharmonisan yang ada di masyarakat Babel, yang dapat dilihat melalui festival ini.
“Selain Festival Cheng Beng, kami juga akan mengadakan perayaan untuk hari besar agama lain seperti Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj. Hal ini bertujuan agar semua umat beragama mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah,” jelas Rudianto. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kerukunan antar umat beragama dan merayakan keberagaman yang ada.
Kegiatan yang Mendukung Tradisi
Dalam konteks memperkuat tradisi Cheng Beng, berbagai kegiatan telah diorganisir untuk mendukung perayaan. Beberapa kegiatan tersebut meliputi:
- Festival seni dan budaya
- Pameran makanan tradisional
- Kegiatan sosial untuk masyarakat
- Pelatihan bagi generasi muda tentang tradisi
- Dialog antarbudaya untuk meningkatkan pemahaman
Dengan kegiatan-kegiatan ini, diharapkan generasi muda dapat lebih memahami dan menghargai tradisi Cheng Beng, serta meneruskannya ke generasi selanjutnya. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini tidak hilang seiring berjalannya waktu.
Kesimpulan
Tradisi Cheng Beng bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual dan budaya yang memperkuat persatuan di antara masyarakat. Melalui penghormatan kepada leluhur, tradisi ini mengajarkan nilai-nilai penting yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan antusiasme masyarakat, dukungan pemerintah, dan partisipasi semua pihak, Cheng Beng dapat terus menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan di Bangka Belitung.
➡️ Baca Juga: 1,6 Juta Kendaraan Berangkat dari Jabotabek Menuju Lebaran 2026
➡️ Baca Juga: Ketua DPRD Lampung Ikuti Rapat Tingkat Tinggi TPID Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah



