LaLaLa Festival Rayakan 10 Tahun, Ekspansi ke Manila dan Dampak Ekonomi Rp306 Miliar

LaLaLa Festival kini memasuki babak baru dalam sejarahnya yang mengesankan selama satu dekade. Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2016, festival musik ini telah berkembang pesat dan kini merambah ke dua kota besar, yaitu Jakarta, Indonesia, dan Manila, Filipina. Dalam penyelenggaraannya yang ke-10 ini, LaLaLa Festival menggandeng Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD dan PK Entertainment untuk memperkuat ekosistem acara. Kerja sama ini mencakup berbagai aspek penting seperti pemilihan artis, produksi, operasional, dan peningkatan pengalaman bagi pengunjung. Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk memastikan semua elemen festival dapat berintegrasi dengan baik, sehingga memberikan pengalaman yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi semua penonton.
Dampak Ekonomi LaLaLa Festival
Lebih dari sekadar ajang pertunjukan bagi musisi lokal dan internasional, LaLaLa Festival juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah tempat acara diselenggarakan. Berdasarkan data yang diperoleh dari penyelenggara, sekitar 69,69 persen pengunjung selama tiga hari acara berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal. Total dampak ekonomi yang tercatat mencapai Rp306,93 miliar.
Dalam pelaksanaannya, LaLaLa Festival melibatkan sekitar 840 tenaga kerja, termasuk 50 panitia inti, 352 pelaku seni dan budaya, 30 relawan, serta 408 pekerja harian. Perputaran ekonomi yang dihasilkan tersebar di berbagai sektor utama, antara lain:
- Makanan dan Minuman: 42,42%
- Jasa Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi: 10,44%
- Penyediaan Akomodasi: 21,12%
- Perdagangan (selain mobil dan sepeda motor): 26,02%
Refleksi dan Rencana Masa Depan
Founder LaLaLa Festival, Carmel Puma, mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan festival yang telah dirintisnya sejak tahun 2016. Ia mengaku terkejut dengan pencapaian festival yang kini telah berusia sepuluh tahun. “Sungguh luar biasa, saya tidak pernah membayangkan bisa berada di sini selama 10 tahun. Dari tahun 2016, kami berjuang keras hingga bisa bertemu dengan banyak orang hebat dan berkolaborasi. Kami bahkan bisa membawa festival Indonesia ke Manila. Jika bukan karena Tuhan, siapa lagi?” ungkap Puma dalam sesi wawancara di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Apresiasi dari Pemerintah
Perjalanan satu dekade LaLaLa Festival juga mendapat pujian dari Kementerian/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Republik Indonesia. Deputi Bidang Kreativitas Media, Cecep Rukendi, menilai bahwa keberlangsungan LaLaLa Festival selama 10 tahun menunjukkan bahwa industri musik di Indonesia memiliki potensi bisnis yang besar jika dikembangkan secara konsisten. “Kami sangat mengapresiasi para promotor musik yang telah menyelenggarakan LaLaLa Festival selama sepuluh tahun berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa dengan segala tantangan yang ada, peluang untuk berbisnis dalam industri musik itu sangat terbuka lebar,” jelas Cecep.
Dukungan Pemerintah untuk Ekonomi Kreatif
Cecep menambahkan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung pelaku ekonomi kreatif, termasuk dalam hal akses pasar, peningkatan kapasitas, dan memberikan kemudahan dalam penyelenggaraan kegiatan. “Salah satu contohnya adalah dengan memfasilitasi akses pasar bagi para pelaku ekonomi kreatif, termasuk membantu kelancaran proses visa untuk musisi asing yang tampil di festival ini,” tuturnya.
Ia juga melihat LaLaLa Festival sebagai wadah yang potensial untuk melahirkan musisi baru yang dapat bersaing di tingkat internasional. “Festival ini bukan hanya tentang musisi besar, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada musisi yang sedang naik daun untuk berkembang,” imbuhnya.
Line-up Musisi Internasional dalam LaLaLa Festival 2026
Memasuki tahun ke-10, LaLaLa Festival 2026 menghadirkan sejumlah musisi internasional yang telah lama dinanti oleh penggemar musik di Indonesia. Beberapa nama yang dijadwalkan tampil antara lain:
- Rex Orange County
- Steve Lacy
- HONNE
- Two Door Cinema Club
- The Flaming Lips
Kehadiran para musisi ini menjadi bagian dari upaya LaLaLa Festival untuk memperluas pengalaman musik lintas negara dan sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu festival musik terkemuka di Indonesia yang mulai membawa identitas dan ekosistemnya ke panggung Asia Tenggara.
Menjaga Keberlanjutan dan Ekosistem yang Sehat
Cecep Rukendi menekankan bahwa keberlanjutan industri musik tidak hanya bergantung pada pengembangan talenta, tetapi juga pada terciptanya ekosistem yang sehat. “Kami ingin membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan industri musik, baik bagi musisi maupun pelaku industri lainnya. Ini mencakup semua aspek, dari penyelenggaraan festival hingga promosi dan dukungan pemerintah,” ujarnya.
Dalam konteks ini, LaLaLa Festival berperan sebagai inkubator dan akselerator bagi musisi, membantu mereka untuk naik kelas dan mendapatkan pengakuan di tingkat internasional. “Kami berkomitmen untuk terus mendukung pelaku industri musik agar dapat beradaptasi dan berkembang dalam ekosistem yang terus berubah ini,” tambah Cecep.
Kesimpulan
LaLaLa Festival telah menunjukkan ketahanan dan dedikasinya dalam memajukan industri musik Indonesia selama satu dekade terakhir. Dengan ekspansi ke Manila dan kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak, festival ini tidak hanya memberikan platform bagi musisi, tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Melalui dukungan pemerintah dan komitmen untuk menciptakan ekosistem yang sehat, LaLaLa Festival siap untuk memasuki babak baru dalam sejarahnya yang gemilang.
➡️ Baca Juga: Ulasan Tablet dengan Mode Produktivitas untuk Profesional Modern yang Mengutamakan Pekerjaan Serius
➡️ Baca Juga: 25.271 Calon Haji Berangkat Menuju Madinah untuk Menjalankan Ibadah Haji




