Langkah Tepat Memeriksa Peradangan Ginjal: Panduan Praktis dan Mudah Dipahami

Sebagian besar orang seringkali mengabaikan pentingnya memeriksa kesehatan ginjal mereka. Mereka cenderung lalai untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter, tanpa menyadari bahwa kondisi ginjal dapat mudah diketahui dari hasil analisis urin. Dr dr Pringgodigdo Nugroho, Ketua Umum PB Pernefri, menyarankan agar terutama orang muda untuk secara rutin melakukan pemeriksaan urin. Tujuannya adalah untuk deteksi dini peradangan ginjal atau yang dikenal dengan glomerulonefritis.
Penyakit Peradangan Ginjal: Siapa yang Berisiko?
Dr Pringgodigdo Nugroho mengungkapkan dalam pertemuan media bahwa peradangan ginjal seringkali terjadi pada usia muda. Pada tahap awal, penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala yang jelas dan dapat terdeteksi melalui pemeriksaan urin.
“Kebanyakan orang muda yang mengalami gagal ginjal adalah akibat dari peradangan ginjal ini, karena mereka tidak pernah melakukan pemeriksaan urin. Padahal, peradangan ginjal dapat diketahui hanya dengan melakukan pemeriksaan urin, karena biasanya tidak ada gejala yang jelas,” jelas Dr Pringgodigdo.
Cara Mendeteksi Peradangan Ginjal
Menurut Dr Pringgodigdo, dalam urin terdapat sel darah merah (eritrosit) atau ada albumin yang seharusnya negatif. Salah satu indikator yang sering diabaikan orang adalah busa pada urin. Jika urin berbusa, itu bisa menjadi tanda adanya kebocoran albumin dalam urin dengan kadar yang cukup tinggi.
“Jika urin sudah berbusa dan berubah warna, itu bisa menjadi tanda bahwa kadar albumin yang bocor sudah tinggi. Biasanya jika urin berwarna kemerahan, itu bisa menjadi indikasi adanya darah. Darah tersebut bisa berasal dari ginjal atau saluran ginjal. Jika darah berasal dari ginjal, itu bisa menjadi tanda adanya peradangan,” ungkap Dr Pringgodigdo.
Pentingnya Gaya Hidup Sehat dan Pemeriksaan Rutin
Sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam lulusan Universitas Indonesia, Dr Pringgodigdo menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mencegah penyakit ginjal. “Jika tidak ada gejala, setidaknya lakukan pemeriksaan sekali dalam setahun,” saran Dr Pringgodigdo.
Menghindari Faktor Risiko Penyakit Ginjal
Dr Pringgodigdo juga menambahkan pentingnya memperhatikan pola makan, terutama bagi generasi muda, dalam upaya pencegahan penyakit ginjal. Salah satu faktor risiko penyakit ginjal adalah konsumsi makanan tinggi kalori yang dapat memicu obesitas.
“Mengonsumsi makanan yang manis dan tinggi kalori harus dihindari. Hal tersebut dapat memicu diabetes, yang secara tidak langsung juga berpotensi memicu penyakit ginjal. Konsumsi makanan instan yang tinggi garam juga dapat memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi yang berlangsung lama, yang dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penyakit ginjal,” jelas Dr Pringgodigdo.
Selain pola makan, gaya hidup sedentary atau kurang aktivitas fisik juga dapat memicu risiko penyakit ginjal. “Dewasa ini, banyak orang yang lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak yang dekat, padahal berjalan kaki dapat membantu membakar kalori,” tambah Dr Pringgodigdo.
➡️ Baca Juga: Indosat Melunasi Obligasi dan Sukuk Senilai Rp56 Miliar: Strategi Optimalisasi Peringkat Rank Google
➡️ Baca Juga: LPDP Buka Dua Program Beasiswa, Cek Persyaratannya!

