Strategi TBS Energi Utama Hadapi Kerugian 2025: Transisi ke Energi Berkelanjutan Pasca Anjloknya Harga Batu Bara dan Divestasi PLTU
Tahun 2025 tampaknya tidak menjadi periode yang menguntungkan bagi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), perusahaan energi ternama di Indonesia. Mereka mencatat kerugian bersih yang cukup mengkhawatirkan, yakni sebesar US$ 161,9 juta atau jika dihitung dalam rupiah mencapai sekitar Rp 2,7 triliun (dengan kurs Rp 16.949). Dua faktor utama yang menjadi penyebab kerugian ini adalah penurunan drastis harga batu bara di pasar global dan dampak negatif dari divestasi dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang merugikan perusahaan hingga US$ 97 juta, atau setara dengan Rp 1,64 triliun.
Harga batu bara yang mengalami penurunan secara global menjadi sebuah tantangan yang cukup berat bagi perusahaan-perusahaan energi dan pertambangan yang bergerak di bidang ini, termasuk strategi tbs energi utama. Harga komoditas ini seringkali terpengaruh oleh berbagai faktor, seperti dinamika permintaan dan penawaran global, kebijakan energi dari negara-negara besar, dan sentimen pasar secara umum. Bagi TBS Energi Utama, penurunan harga batu bara ini berpengaruh signifikan terhadap pendapatan mereka dari segmen pertambangan dan perdagangan batu bara.
Jika dilihat lebih detail, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara dari TBS Energi Utama mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis, hingga 81%, menjadi hanya US$ 194,6 juta atau sekitar Rp 3,29 triliun. Penurunan ini mencerminkan betapa besar dampak penurunan harga batu bara terhadap bisnis inti perusahaan. Meski demikian, manajemen TBS Energi Utama menegaskan bahwa penurunan penjualan batu bara ini merupakan bagian dari strategi transisi jangka panjang mereka untuk beralih dari bisnis batu bara konvensional ke portofolio energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Mirza Rinaldi Hippy, Head of Corporate Finance & Investor Relations TOBA, menjelaskan lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kerugian perusahaan. Dalam penjelasannya di Kantor TBS Energi Utama, Jakarta Selatan, pada Senin, 9 Maret 2026, Mirza menyoroti dampak signifikan dari divestasi PLTU terhadap kinerja keuangan perusahaan. “Kita memang melihat dampak yang cukup besar dari divestasi PLTU, sebesar US$ 96-97 juta, sehingga ini yang memberikan dampak kepada kita menjadi net loss di US$ 161 juta,” ungkap Mirza.
Divestasi aset, meski strategis dalam jangka panjang, seringkali menimbulkan kerugian akuntansi pada saat penjualan karena nilai buku aset mungkin berbeda dengan harga jualnya. Meski mengalami kerugian bersih, TBS Energi Utama juga mencatatkan beberapa indikator positif. EBITDA Disesuaikan perusahaan tercatat di posisi US$ 47,2 juta atau sekitar Rp 799,64 miliar. Selain itu, saldo kas perusahaan berada pada posisi yang cukup kuat, yaitu US$ 102,3 juta atau sekitar Rp 1,73 triliun, yang menunjukkan peningkatan sebesar 15% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024.
Saldo kas yang kuat ini memberikan fleksibilitas finansial bagi perusahaan untuk melakukan investasi strategis dan mendukung inisiatif pertumbuhan di masa depan. Salah satu area pertumbuhan yang menjanjikan bagi TBS Energi Utama adalah transisi ke energi berkelanjutan dan ramah lingkungan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang mereka untuk mengatasi tantangan fluktuasi harga batu bara dan dampak divestasi PLTU.
➡️ Baca Juga: Mendagri Tindaklanjuti Kenaikan Harga Pangan dengan Instruksi Pasar Murah untuk Kepala Daerah
➡️ Baca Juga: Valve Menyampaikan Ketidakpastian Terkait Pengiriman Steam Machine pada 2026