Penurunan Harga Rumah Sekunder di Tengah Kenaikan Inflasi RI 4,76%

Di tengah kenaikan inflasi nasional yang mencapai 4,76%, pasar properti sekunder di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Sebaliknya dengan logika ekonomi yang umum, harga rumah sekunder justru menunjukkan penurunan. Laporan bulanan Maret 2026 memperlihatkan penurunan harga rumah sekunder sebesar 1,2% pada bulan Februari dan turun 0,4% secara tahunan. Situasi ini menciptakan kesenjangan sebesar 4,4% antara tingkat inflasi dan indeks harga rumah. Bagaimana bisa?

Properti Jadi Lebih Terjangkau

Kondisi penurunan harga rumah sekunder ini, sejatinya menciptakan peluang bagi calon pembeli. Selisih antara tingkat inflasi dan indeks harga rumah menciptakan properti yang relatif lebih terjangkau. Hal ini tentu menjadi angin segar di tengah kenaikan biaya hidup yang semakin tidak terkendali. Namun, yang menjadi tantangan adalah ketersediaan unit di pasar yang semakin terbatas.

Suplai Rumah Sekunder Menyusut

Laporan juga menunjukkan penurunan volume suplai rumah sekunder sebesar 7,8% secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan fenomena market resistance, dimana pemilik properti lebih memilih untuk menahan aset mereka daripada menjual di harga yang belum optimal. Menurut Marisa Jaya, Head of Research, penurunan suplai ini menjadi indikator penting bagi dinamika pasar properti kedepan.

“Penurunan suplai merupakan sinyal penting bagi pasar. Jika suplai terus menyusut sementara minat pencarian tetap stabil, maka pasar kemungkinan sedang mendekati fase bottoming out sebelum kembali pulih,” jelas Marisa. Dia menambahkan, potensi pemulihan pasar dapat terjadi lebih cepat ketika suku bunga Bank Indonesia di level 4,75% sepenuhnya tertransmisi ke bunga KPR.

Pergerakan Harga di Tingkat Kota

Walaupun secara nasional harga rumah sekunder mengalami koreksi, dinamika harga di tingkat kota menunjukkan pola yang berbeda-beda. Misalnya kota Medan, yang tercatat memiliki pertumbuhan harga tahunan tertinggi sebesar 5,5%. Bahkan, kota ini melampaui beberapa destinasi investasi properti yang sebelumnya populer seperti Denpasar dan Yogyakarta.

Sebaliknya, Yogyakarta yang sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan dua digit akibat pembangunan infrastruktur tol, mulai mengalami pendinginan pasar. Pada Februari 2026, harga rumah di kota tersebut tercatat turun 2,5%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar properti di beberapa wilayah sedang mencari titik keseimbangan baru setelah mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi sebelumnya.

Permintaan Properti

Dari sisi permintaan, Tangerang masih menjadi kawasan dengan minat pencarian properti terbesar secara nasional dengan pangsa 14,8%. Sementara itu, Jakarta Selatan mencatat kenaikan popularitas bulanan terbesar sebesar 1,2%, menunjukkan meningkatnya kembali minat masyarakat terhadap kawasan hunian mapan di ibu kota. Koreksi harga rumah tahunan di Jakarta sebesar -1,7% juga membuat pasar di wilayah tersebut menjadi lebih kompetitif bagi calon pembeli.

Median Harga Berdasarkan Ukuran Rumah

Laporan juga mencatat median harga rumah berdasarkan luas bangunan di beberapa kota sebagai berikut:

Dari data tersebut, terlihat permintaan masih datang dari berbagai segmen pasar, baik dari pembeli rumah pertama di segmen hunian kecil maupun dari pembeli di segmen rumah berukuran besar.

Secara keseluruhan, pasar properti Indonesia pada awal 2026 masih berada dalam fase konsolidasi. Harga yang bergerak lebih moderat, suplai yang terbatas, serta pembeli yang semakin selektif menciptakan dinamika pasar yang lebih rasional. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi calon pembeli untuk mempertimbangkan pembelian rumah pada momentum yang relatif lebih stabil.

➡️ Baca Juga: 9 Rekomendasi Tempat Bukber di Jakarta Pusat, Gampang Diakses Dari Mana Saja

➡️ Baca Juga: Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Menstruasi di Hari Perempuan Internasional

Exit mobile version