Malioboro Sebagai Destinasi Budaya: Setu Sinau Ciptakan Ruang Belajar yang Inspiratif

Malioboro, jantung Kebudayaan Yogyakarta, kini telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata. Setiap Sabtu pagi, kawasan ini menjadi tempat yang inspiratif untuk belajar tentang seni dan budaya Jawa melalui program inovatif bernama Setu Sinau. Program ini mengundang masyarakat dan pengunjung untuk terlibat dalam pengalaman budaya yang mendalam, menawarkan kesempatan untuk tidak hanya menikmati Malioboro, tetapi juga memahami dan merasakan esensi kebudayaan yang ada di dalamnya.
Setu Sinau: Program Edukasi Budaya di Malioboro
Inisiatif yang digagas oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini dilaksanakan setiap Sabtu dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Kegiatan ini diselenggarakan di berbagai titik di pedestrian Malioboro, mulai dari depan Grand Hotel De Djokja hingga Plaza Malioboro. Dengan konsep yang unik, Setu Sinau memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar langsung di tengah atmosfer kebudayaan yang kental.
Tujuan dan Manfaat Setu Sinau
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mengubah persepsi kunjungan ke Malioboro. Bukan hanya sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga sarana untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang kebudayaan Yogyakarta. Dengan Setu Sinau, diharapkan pengunjung dapat merasakan kedalaman budaya yang ada.
“Kami ingin memberikan makna lebih dari sekadar jalan-jalan. Dengan Setu Sinau, kami berharap orang-orang tidak hanya duduk atau berjalan-jalan, tetapi juga mendapatkan nilai dan pengalaman yang berharga,” tuturnya saat ditemui di kelas dolanan anak pada Sabtu, 3 Oktober.
Kelas Pembelajaran Beragam
Setu Sinau menawarkan berbagai kelas yang mengajarkan aspek-aspek budaya yang berbeda. Diantaranya adalah:
- Aksara Jawa
- Tari
- Musik dan Gamelan
- Dolanan Anak
- Tata Busana
Setiap peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga diajak untuk langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari. Metode pembelajaran ini dirancang untuk menciptakan interaksi yang hidup antara peserta.
Interaksi dalam Pembelajaran
Menurut Yetti, pola pembelajaran yang interaktif ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Misalnya, dalam kelas tari, peserta diajak untuk bergerak bersama di ruang terbuka, memperkuat rasa kebersamaan dan keterhubungan antar peserta.
“Kami tidak hanya membahas teknik tari, tetapi juga bagaimana menari membutuhkan kebersamaan dan saling berinteraksi,” jelas Yetti, menekankan pentingnya aspek sosial dalam pembelajaran seni.
Mendekatkan Budaya kepada Masyarakat
Program ini merupakan langkah strategis Dinas Kebudayaan untuk mendekatkan budaya kepada masyarakat. Melalui Setu Sinau, budaya tidak hanya dikenalkan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi dan merasakan secara nyata proses pembelajaran. Hal ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebanggaan terhadap budaya lokal.
Pengalaman Berbeda di Malioboro
Setu Sinau juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memahami sejarah dan budaya Malioboro secara lebih mendalam. Dengan memanfaatkan ruang publik yang biasanya dipenuhi aktivitas wisata, program ini menambahkan dimensi baru pada kunjungan mereka. Pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan tentang budaya Yogyakarta.
“Kami ingin setiap orang yang mengunjungi Malioboro membawa pulang pengalaman tentang budaya Jogja dan Jawa yang lebih mendalam,” ungkap Yetti. Dengan cara ini, diharapkan mereka dapat lebih mengingat dan menghargai warisan budaya yang ada.
Partisipasi Masyarakat dalam Setu Sinau
Setu Sinau telah dimulai sejak awal 2026 dan terbuka untuk semua kalangan. Program ini tidak hanya gratis, tetapi juga mengundang masyarakat untuk datang langsung ke lokasi. Bagi mereka yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang jadwal dan materi kelas, pendaftaran juga tersedia.
Variasi Kelas Setiap Pekan
Keberagaman materi yang diajarkan juga menjadi nilai lebih dari program ini. Setiap pekan, jenis kelas yang ditawarkan bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, kegiatan mencakup:
- Sinau Aksara Jawa
- Sinau Njoged
- Sinau Dolanan Anak
- Sinau Nggambar
- Sinau Macapat
- Sinau Nggamel
- Sinau Ngadi Busana
- Sinau Wayang Upcycle
- Sinau Paduan Suara
- Sinau Drum
Pelaksanaan kegiatan pada hari itu juga dimeriahkan dengan penampilan 1.000 penari dari Kampung Menari, menambah suasana semarak di Malioboro.
Keterlibatan Komunitas Seni
Dalam pelaksanaan Setu Sinau, Dinas Kebudayaan tidak bekerja sendirian. Mereka melibatkan berbagai sanggar seni dan budaya sebagai instruktur dan pengajar. Menurut Yetti, saat ini terdapat sekitar 470 sanggar di Kota Yogyakarta yang siap berkontribusi dalam program ini. Melalui kolaborasi ini, diharapkan kualitas pengajaran dapat ditingkatkan dan lebih banyak orang dapat terlibat dalam pelestarian budaya.
Dengan demikian, Setu Sinau bukan hanya menjadi program belajar, tetapi juga wadah untuk memperkuat jaringan komunitas seni di Yogyakarta. Melalui aktivitas ini, masyarakat bisa lebih mengenal dan mencintai warisan budaya yang ada, menjadikan Malioboro tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran budaya yang inspiratif.
➡️ Baca Juga: Honor X7d dan X6c Resmi Meluncur di Indonesia, Tawarkan Fitur AI Canggih dan Kamera 108MP
➡️ Baca Juga: Agen AI OpenAI Terlibat Kompromi Akun Pelanggan Modal Labs yang Membahayakan Keamanan




