<div>
Jakarta: <a href=”https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/1bVzVYLb-sering-salah-kaprah-ini-arti-sebenarnya-di-balik-ucapan-minal-aidin-wal-faizin”>Hari Raya Idulfitri</a> kerap dimaknai sebagai titik kembali pada fitrah melalui momen maaf-maafan. Lebih dari itu, memaafkan menjadi proses penyembuhan diri seseorang.<br/> <br/>
Dosen Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Miftakhul Jannah, menjelaskan memaafkan (<em>forgiveness</em>) bukan sekadar tuntunan sosial. Melainkan sebuah transformasi emosional yang mengubah sisa-sisa rasa sakit menjadi ketenangan yang lebih adaptif.<br/> <br/>
Mengutip pemikiran pakar psikologi seperti Robert Enright dan Everett Worthington, Mifta menyebut tradisi saling memaafkan berfungsi sebagai <em>emotional release</em> atau pelepasan beban emosi yang selama ini terperangkap.<br/><br/>
Suasana spiritual yang kental di hari raya menciptakan ruang refleksi yang unik. Empati tumbuh lebih subur untuk memperkuat hubungan atau memulihkan hubungan yang sempat renggang.<br/> <br/>
Manfaat memaafkan ternyata berdampak langsung pada anatomi kesehatan mental seseorang. Ketika seseorang memilih melepaskan dendam, terjadi pergeseran cara pandang terhadap pengalaman pahit di masa lalu.<br/> <br/>
Proses ini secara efektif memutus rantai rumination. Kebiasaan melelahkan dalam memutar kembali memori negatif secara berulang-ulang di dalam pikiran.<br/>
<div>
<p><strong>Baca Juga :</strong></p>
<h3><a href=”https://www.medcom.id/gaya/fitness-health/dN6ynEPK-misi-nyari-maaf-yang-tulus-di-momen-lebaran-bukan-cuma-biar-suasana-jadi-biasa-aja-lagi”>Misi Nyari Maaf yang Tulus di Momen Lebaran, Bukan Cuma Biar Suasana Jadi ‘Biasa Aja’ Lagi</a></h3>
</div>
<br/>
“Jika dibiarkan, pola pikir rumination dapat memicu stres kronis dan beban emosional yang berat. Sebaliknya, individu yang mampu memaafkan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi,” papar Mifta dikutip dari laman unesa.ac.id, Sabtu, 21 Maret 2026<br/> <br/>
Dia menuturkan menyimpan amarah dalam jangka panjang ibarat memikul beban berat yang tak kasatmata. Emosi negatif yang dipendam terus-menerus berisiko memicu <a href=”https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/Dkq13Z6k-bukan-soal-lemah-mental-ini-penjelasan-ilmiah-mengapa-burnout-bisa-merusak-otak”>kelelahan mental</a> hingga gejala depresi.<br/> <br/>
Dalam sudut pandang psikologi, memaafkan adalah bentuk emotion-focused coping, sebuah cara berdaulat bagi individu untuk mengelola tekanan dengan mengatur respons emosinya sendiri terhadap peristiwa yang menyakitkan.<br/> <br/>
Meski tampak sederhana, Mifta mengakui memaafkan sering kali menjadi perjalanan terjal. Kedalaman luka dan sejarah interpersonal setiap orang sangatlah personal.<br/> <br/>
Namun, ia menekankan memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Melainkan sebuah keputusan berani untuk tidak lagi membiarkan masa lalu mengontrol kebahagiaan dan ketentraman jiwa saat ini dan ke depan.<br/> <br/>
Melalui pemaknaan ulang terhadap pengalaman pahit, seseorang dapat perlahan meletakkan beban di pundaknya.<br/> <br/>
“Ketika memaafkan dilakukan dengan tulus, hal ini tidak hanya merajut kembali tali silaturahmi, tetapi merupakan hadiah paling berharga bagi diri sendiri agar bisa melangkah dengan lebih ringan, tenang, dan sejahtera secara psikologis,” ujar dia.<br/> <br/><strong>Cek Berita dan Artikel yang lain di
<a href=”https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMO3SgQswosT9Ag?ceid=ID:id&oc=3&hl=id&gl=ID\”>
<div>
<img src=”https://va.medcom.id/2024//default/images/gnews.svg”/>
</div>
<div>
Google News
</div>
</a></strong><div>(REN)</div> </div>
➡️ Baca Juga: Trump Adakan Konferensi Pers Mengenai Serangan AS-Israel Terhadap Iran
➡️ Baca Juga: Pola Pengelolaan UMKM Sederhana yang Cocok untuk Usaha dengan Tim Kecil
