Jakarta – Unit musik punk-rock yang berasal dari Bogor, The Jansen, kembali menyapa para penggemar musik di Indonesia dengan merilis single terbaru berjudul “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”. Lagu ini diluncurkan bersamaan dengan video liriknya dan menjadi pintu gerbang menuju album keempat mereka yang bertajuk Romantisasi Impulsif. Album ini menandai akhir dari trilogi setelah Banal Semakin Binal (2022) dan Durja Bersahaja (2024). Karya ini menunjukkan kelanjutan perjalanan musik The Jansen, yang sebelumnya telah merilis berbagai karya, mulai dari EP From Bogor to Japan (2016) hingga album Present Continuous (2017), Say Say Say (2019), dan Banal Semakin Binal (2022), yang semuanya berhasil menarik perhatian pendengar. Pada tahun 2024, duo yang kini digawangi oleh Cinta Rama Bani Satria (Bani) dan Adji Pamungkas ini mengeksplorasi pendekatan baru lewat Durja Bersahaja dengan nuansa lo-fi yang mengejutkan, serta vokal yang ditenggelamkan dan penggunaan reverb yang khas.
Menemukan Makna Baru dalam Lagu Cinta Pertama
Dengan dirilisnya single terbaru ini, The Jansen membuka lembaran baru dalam eksplorasi musikal mereka. Untuk pertama kalinya, mereka secara sadar menghadirkan tema cinta dalam karya mereka. “Ini adalah kali pertama The Jansen dengan sengaja menciptakan lagu cinta,” ungkap Adji dalam siaran pers. Sebelumnya, mereka dikenal dengan lirik yang menggambarkan pesta anak muda, kritik sosial, serta kegelisahan eksistensial yang dibalut dengan romantisme pahit. Namun, kali ini mereka dengan terbuka mengekspresikan perasaan jatuh cinta, kerentanan, dan kontradiksi emosi yang dialami, lengkap dengan frasa “wo ai ni” yang berarti “aku cinta padamu” dalam bahasa Mandarin, yang memberikan nuansa manis sekaligus ironis.
Fenomena Cinta dalam Keterbatasan
Adji menjelaskan bahwa cinta sering kali mendorong seseorang untuk berbuat di luar batas nalar. Ia memberikan contoh sederhana bagaimana seseorang dapat meminjam motor untuk mengajak pasangannya berkencan, menggambarkan realitas cinta dalam keterbatasan. The Jansen menangkap fenomena ini dengan cerdik dan menuangkannya dalam bentuk lagu. “Walaupun ini adalah pengalaman pertama kami dalam menciptakan lagu cinta, kami ingin memberikan perspektif yang berbeda. Bagaimana cinta bisa bekerja di dalam situasi yang sulit?” jelas Adji.
- Menangkap esensi cinta dalam keterbatasan.
- Menawarkan perspektif baru tentang hubungan.
- Menyiratkan kerentanan dalam jatuh cinta.
- Menjelajahi emosi yang kompleks dan kontradiktif.
- Menjadi jujur dan rapuh dalam lirik.
Identitas Khas The Jansen dalam Lagu Cinta
Lebih dari sekadar lagu cinta biasa, “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” tetap mempertahankan identitas khas The Jansen yang gelap, ironis, namun tetap jujur dan penuh kerentanan. Pengulangan frasa “wo ai ni” terdengar seperti mantra yang tidak hanya diperuntukkan untuk meyakinkan pasangan, tetapi juga untuk meyakinkan diri sendiri. “Kami senang memulai dari sesuatu yang belum kami ketahui akan berujung ke mana,” ungkap Bani, menekankan semangat eksplorasi yang mereka miliki.
Visual Menarik yang Melengkapi Musik
The Jansen tidak hanya memanjakan telinga pendengar mereka, tetapi juga menyajikan visual yang menarik melalui video lirik yang terinspirasi oleh film Hong Kong dari dekade 90-an. Dalam video ini, mereka menyajikan lirik dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin, yang memberikan kesan estetik yang kuat dan menarik perhatian. Ini adalah langkah cerdas dalam memperluas daya tarik visual dari karya mereka, yang semakin melengkapi pengalaman mendengarkan lagu.
Album Romantisasi Impulsif dan Harapan ke Depan
Album Romantisasi Impulsif dijadwalkan untuk dirilis di seluruh platform musik digital pada 22 Juli 2026 mendatang. Untuk format fisiknya, The Jansen bekerja sama dengan P-Vine Records dari Jepang yang akan merilis CD dan vinyl, serta Miles Records dari Malaysia untuk edisi kaset. Dengan single pembuka yang berani ini dan konsep album yang menjadi penutup trilogi, The Jansen kembali menegaskan bahwa mereka tidak pernah berhenti untuk bereksperimen dalam musik.
Menanti Apa yang Akan Datang
Dengan peluncuran single ini, publik kini menunggu apakah Romantisasi Impulsif akan menjadi penutup yang manis bagi trilogi mereka atau justru akan membuka fase baru dalam perjalanan musik mereka. Karya ini tidak hanya menjadi penanda perubahan tema, tetapi juga menunjukkan kematangan The Jansen dalam mengeksplorasi tema cinta yang lebih dalam dan kompleks.
Perjalanan The Jansen dalam menciptakan “lagu cinta pertama” ini adalah langkah yang berani dan menarik, yang menunjukkan bahwa mereka siap untuk meneruskan eksplorasi musikal mereka dengan cara yang baru dan menantang. Dalam dunia musik yang terus berubah, The Jansen berhasil menyajikan karya yang tidak hanya relevan tetapi juga menyentuh hati pendengarnya.
➡️ Baca Juga: Kantor Dinas Peternakan Sigi Digeledah Terkait Dugaan Korupsi yang Mengemuka
➡️ Baca Juga: Pendaftaran Mandiri Gelombang I Sipencatar PPI Madiun Dibuka, Cek Informasi Lengkapnya!
