AS Menuduh Rusia dan Tiongkok Melindungi Iran di Dewan Keamanan PBB: Fakta, Bukan Opini

Mike Walts, Utusan AS untuk PBB, baru-baru ini menuduh Rusia dan Tiongkok melindungi Iran dari pengawasan internasional. Menurutnya, kedua negara ini berusaha menghalangi upaya PBB untuk mengawasi sanksi terhadap Iran. Pernyataan ini bukanlah opini semata, melainkan fakta yang perlu kita perhatikan lebih dalam. Bagaimana cara Rusia dan Tiongkok melakukan hal ini? Apa yang mereka dapatkan dari melindungi Iran? Mari kita pelajari lebih lanjut.
AS Menuduh Rusia dan Tiongkok Melindungi Iran di Dewan Keamanan PBB
Pada suatu pertemuan wajib dengan Komite Sanksi 1737, Walts menuntut penghentian segala bentuk pura-pura khawatir yang menurutnya ada dalam proses pengawasan Iran. Dia menegaskan bahwa Rusia dan Tiongkok memang tidak menghendaki komite ini karena mereka ingin terus melindungi mitra mereka, Iran.
Pembentukan Komite Sanksi 1737
Komite Sanksi 1737 dibentuk pada Desember 2006, dengan tugas untuk melaporkan kegiatan mereka kepada Dewan setiap 90 hari.
Pemungutan Suara Proses Pengawasan
Pertemuan ini diawali dengan Vassily Nebenzia, utusan Rusia untuk PBB, yang mendesak adanya pemungutan suara prosedural untuk menolak pertemuan tersebut. Menurut Nebenzia, E3 – yang terdiri dari Inggris, Prancis, dan Jerman – tidak berhak untuk mengaktifkan mekanisme “snapback” dan dia mengecam AS karena menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada tahun 2018.
Utusan Tiongkok, Fu Cong, mendukung mosi prosedural ini dan menyebut pengaktifan mekanisme snapback oleh E3 sebagai tindakan yang cacat baik secara prosedural maupun hukum.
Peran E3 dan ‘Snapback’
Pada 28 Agustus 2025, E3 mengumumkan bahwa mereka telah mengaktifkan mekanisme ‘snapback’ untuk menerapkan kembali sanksi PBB terhadap Iran. Mereka menuduh Teheran tidak mematuhi kesepakatan nuklir 2015, setelah penarikan sepihak AS dari kesepakatan tersebut pada tahun 2018.
Perselisihan Tentang Pembangunan Senjata Nuklir
Iran telah dituduh oleh Israel, AS, dan beberapa negara Eropa berusaha mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran menegaskan bahwa program nuklir mereka ditujukan untuk pembangkit listrik dan penggunaan sipil, dan tidak ada niat untuk membuat senjata nuklir.
Walts menolak tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa upaya penghalangan ini didasarkan pada penafsiran ulang peristiwa yang tidak jujur dan tidak berdasar. Dia juga menuduh Rusia dan Tiongkok telah mempertahankan hubungan perdagangan militer dengan Iran yang melanggar resolusi PBB.
AS Berupaya Melawan Iran
Walts menegaskan bahwa AS akan terus berusaha untuk memastikan Iran tidak lagi dapat menggunakan program rudal, drone, dan tentu saja program nuklirnya untuk mempengaruhi dunia. Dia menegaskan ini sebagai upaya AS untuk menjaga keseimbangan kekuatan.
Rusia Menuduh AS Melanggar Hukum
Nebenzia, yang saat itu memegang jabatan sebagai presiden Dewan Keamanan, menuduh AS melakukan pelanggaran hukum. Dia menyatakan bahwa Federasi Rusia tidak melihat alasan untuk mengaktifkan kembali Komite Dewan Keamanan 1737.
Lebih lanjut, Nebenzia menyatakan penyesalannya bahwa delegasi Barat berusaha untuk melegalkan klaim mereka. Dia menegaskan bahwa Rusia dan Tiongkok telah melakukan segala upaya untuk menghindari situasi hukum dan prosedural yang kompleks selama masa perselisihan yang intens tentang mekanisme ‘pengaktifan kembali’ (snapback).
➡️ Baca Juga: SMAN 34 Jakarta Melaksanakan Kegiatan Mengajar Sosial di LKSA YUSOLI: Membagikan Ilmu untuk Masa Depan Lebih Baik
➡️ Baca Juga: IHSG Menguat Tajam: Sentimen Positif Mendorong Indeks Menembus Level 7.400 di Pembukaan Perdagangan