Api Olahraga Terancam oleh Asap di Pontianak: Dampak dan Solusi Terbaik

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Meskipun kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri, semangat masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan, termasuk berolahraga, tampak tidak surut. Pada Minggu pagi, 6 September 2026, aroma asap yang menyerupai kayu terbakar masih menyengat di berbagai sudut kota. Dari lokasi penginapan, lapisan asap terlihat jelas menghalangi sinar matahari dan mengurangi jarak pandang. Namun, aktivitas warga tetap berlangsung. Jalan-jalan masih dipenuhi kendaraan, dan Pasar Flamboyan ramai dengan pengunjung yang berbelanja, yang secara tidak langsung menyebabkan kemacetan. Dalam situasi ini, petugas Dinas Perhubungan harus turun tangan untuk mengatur lalu lintas. Seolah tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk berhenti beraktivitas.
Kevin, seorang petugas kebersihan di Hotel Garuda, menyadari risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh paparan asap. Namun, tuntutan hidup memaksanya untuk tetap berada di luar ruangan. “Kami harus tetap bekerja untuk bisa bertahan hidup. Jika tidak bekerja, dari mana kami mendapatkan uang?” ujarnya sambil tertawa. Kevin menambahkan bahwa warga kota berusaha melindungi diri dengan menggunakan masker, yang kini semakin mudah didapatkan, baik dari pemerintah maupun komunitas lokal yang membagikannya di lampu merah. “Kami juga menggunakan masker sebagai tindakan pencegahan,” ujarnya.
Namun, pertanyaannya muncul: bagaimana dengan mereka yang beraktivitas di luar ruangan bukan karena pekerjaan? Biasanya, Minggu pagi adalah waktu bagi masyarakat untuk berolahraga, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar mencari udara segar. Apakah kebiasaan ini masih bisa dipertahankan di tengah kabut asap yang melanda Pontianak?
Aktivitas Olahraga di Tepian Kapuas
Pencarian informasi kemudian mengarahkan penulis ke kawasan Istana Kesultanan Kadriyah, yang merupakan salah satu ikon Pontianak di tepi Sungai Kapuas. Hanya sekitar 15 menit perjalanan dari lokasi penginapan, aktivitas masyarakat tetap terlihat ramai. Pasar Kenanga dipenuhi pengunjung yang berbelanja atau sekadar menikmati suasana. Sungai Kapuas, yang membelah kota, juga tetap menjadi ruang publik yang dimanfaatkan oleh warga. Di tepi sungai, jalur sepeda terlihat digunakan oleh masyarakat, sementara area yang menyerupai dermaga menjadi tempat para pemancing berkumpul atau duduk bersantai.
Sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang tampak beristirahat setelah bersepeda di depan Masjid Sultan Syarif Abdurrahman. Di dekat mereka, beberapa pemancing duduk berjejer, menunggu hasil tangkapan. Meskipun kabut asap membuat suasana terasa tidak nyaman, bagi sebagian warga, kesempatan untuk menikmati akhir pekan tetap terlalu berharga untuk dilewatkan. Ramon, salah satu pemancing, mengaku telah mengurangi aktivitasnya sejak kabut asap mulai menyebar. Namun, libur berdagang membuatnya kembali ke tepian sungai. “Sebenarnya, saya sudah mengurangi memancing karena kabut asap, tetapi karena saya rindu, saya datang lagi,” ujarnya.
Tak lama setelah itu, umpan di kail Ramon disambar ikan ketang yang cukup besar. Seketika, kabut asap yang menyelimuti tampak terlupakan. Momen sederhana ini menggambarkan bagaimana masyarakat Pontianak berusaha untuk tetap menjalani rutinitas dan menikmati ruang publik meskipun dalam kondisi yang kurang ideal. Namun, penting untuk diingat bahwa beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun tetap menyimpan risiko bagi kesehatan.
Dari Tepian Kapuas ke GOR Terpadu Ahmad Yani
Perjalanan dilanjutkan menuju GOR Terpadu Ahmad Yani, yang berjarak sekitar 20 menit berkendara dari kawasan Istana Kesultanan Kadriyah. Kawasan ini merupakan lokasi populer bagi masyarakat untuk berolahraga. Sementara itu, Pontianak juga sedang menjadi tuan rumah turnamen Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026, sebuah ajang bulu tangkis bertaraf internasional yang berlangsung dari 1 hingga 6 September. Turnamen ini menjadi daya tarik baru bagi masyarakat Pontianak setelah sebelumnya sukses menggelar Polytron Pontianak International Challenge 2026. Total hadiah mencapai USD120 ribu menambah antusiasme warga.
Ketika penulis tiba di sekitar GOR, terlihat banyak orang dari berbagai usia berpartisipasi dalam aktivitas olahraga seperti jogging dan bersepeda. Namun, pemandangan paling menarik terlihat di depan GOR, di mana antrean panjang para calon penonton mengular di loket tiket. Mereka datang untuk menyaksikan pertandingan bulu tangkis yang biasanya hanya bisa mereka saksikan di televisi. Antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak sebelum turnamen dimulai, dengan banyak tiket terjual lebih cepat dari perkiraan panitia.
Semangat dan Harapan Masyarakat
Nanda, salah satu warga yang datang bersama dua temannya, mengaku sudah membeli tiket secara online. Namun, dua temannya belum mendapatkan tiket. Setelah mendengar bahwa tidak semua yang antre akan mendapatkan tiket, ketiga sahabat itu memilih untuk mundur dari antrean. “Saya sudah punya tiket, tapi teman-teman saya ini belum. Sekarang jadi bingung, saya bisa masuk sendirian atau tidak,” ungkap Nanda. Meski demikian, dia tetap merasa senang Pontianak menjadi tuan rumah turnamen besar seperti ini. “Saya berharap Indonesia Masters bisa sering digelar di sini,” imbuhnya.
Harapan serupa juga disampaikan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Setelah turnamen berakhir, Edi berharap keberhasilan penyelenggaraan Indonesia Masters 2026 dapat membuka peluang bagi Pontianak untuk menjadi tuan rumah untuk ajang yang lebih besar di masa mendatang.
Menjaga Semangat Tanpa Mengabaikan Kesehatan
Pemandangan di berbagai sudut Pontianak pada akhir pekan menunjukkan satu hal yang jelas: kabut asap tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas masyarakat. Beberapa tetap bekerja, ada yang bersepeda, memancing, dan bahkan antre untuk menyaksikan pertandingan bulu tangkis internasional. Namun, semangat ini tidak boleh mengabaikan risiko kesehatan yang mungkin timbul. Pemerintah Kalimantan Barat terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla dan dampak asapnya.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya pencegahan karhutla, termasuk menghentikan praktik pembakaran lahan dan segera melaporkan jika menemukan titik api. Dalam menangani dampak asap, pemerintah provinsi juga telah menyalurkan bantuan masker, vitamin, dan perlengkapan kesehatan. Ria Norsan mengingatkan bahwa dampak dari asap tidak hanya mengenai lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak yang mudah terinfeksi penyakit saluran pernapasan akut.
Sementara itu, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak dari karhutla. BMKG melaporkan pada 5 September bahwa operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat berhasil memicu hujan yang membantu memadamkan titik api di sejumlah wilayah. Kabut asap menjadi pengingat bahwa olahraga dan ruang publik memang penting bagi kehidupan masyarakat, tetapi kualitas udara harus tetap menjadi perhatian utama.
Pontianak tetap bisa bergerak, dan warganya bisa terus semangat. Namun, ketika kabut asap semakin pekat, penggunaan masker, pengurangan aktivitas di luar ruangan, dan perhatian terhadap kondisi kesehatan tubuh menjadi hal yang esensial untuk menjaga semangat tersebut. Karena di balik setiap aktivitas bersepeda, memancing, jogging, dan sorakan riuh di dalam GOR, kesehatan adalah hal yang paling utama untuk dijaga.
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Menguasai Drive Shot Badminton untuk Serangan Cepat yang Mematikan
➡️ Baca Juga: Daftar Wilayah yang Menerapkan PJJ Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau




