Dari Loper Koran Menjadi Doktor: Perjalanan Inspiratif Guru MI Semarang Lulus S3 UIN Walisongo

Semarang – Kisah Moh. Miftahul Arief, seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Akhlaqiyah di Ngaliyan, Semarang, merupakan sebuah inspirasi luar biasa. Di usia 45 tahun, Arief baru saja meraih gelar Doktor dalam Studi Islam dari UIN Walisongo, sebuah pencapaian yang sangat mengesankan bagi seseorang yang sebelumnya tidak pernah membayangkan dapat menempuh pendidikan hingga jenjang S-3. Sejak delapan tahun lalu, saat mengantarkan keluarga menghadiri ujian terbuka doktor, Arief sudah merasa bahagia. Ia merasa cukup beruntung bisa berfoto di photobooth acara tersebut. Namun, tidak pernah terlintas di benaknya untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana, mengingat usia yang semakin bertambah dan biaya yang cukup tinggi.
Perjalanan Menuju Gelar Doktor
Perjalanan Arief menuju gelar doktor bukanlah hal yang mudah. Di masa kuliah, ia harus berjuang dengan menjual koran di lampu merah Kalibanteng, dekat Museum Ranggawarsito di Semarang, untuk membantu biaya hidup dan pendidikannya. Sejak memulai karir sebagai guru pada tahun 2005, ia juga bekerja paruh waktu di Toko Buku Gramedia Pandanaran hingga larut malam. “Saat itu, fokus saya sederhana; saya ingin terus belajar sambil bekerja,” kenangnya. Menurutnya, melakukan pekerjaan apa pun selama halal dan bermanfaat sangatlah penting.
Bersama istrinya, Arief memulai bisnis pengetikan komputer di rumah dengan modal satu komputer tua. Hingga saat ini, ia masih menjalani pekerjaan sampingan sebagai sopir taksi online, yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga memperluas jejaring sosialnya. Dalam lima tahun setelah menjadi guru, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah dari tahun 2010 hingga 2022. Pada tahun 2020, Arief mendapatkan penghargaan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi dari Kementerian Agama Kota Semarang.
Mengembangkan Bisnis dan Keterampilan Manajerial
Di luar tanggung jawabnya di madrasah, Arief juga mendirikan Bimbingan Belajar AIO yang sangat diminati di Kota Semarang. Ia melihat ini sebagai sarana untuk menerapkan keterampilan manajerial pendidikan serta sebagai sumber pendapatan. “Alhamdulillah, saya mendirikan Bimbel AIO, yang dikenal karena latar belakang pendidikan saya dan pengalaman manajerial,” ujarnya. Tak hanya itu, Arief juga aktif dalam dunia jurnalistik. Saat ini, ia berperan sebagai jurnalis di Majalah AULA NU, serta mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi untuk EDUKASIA.ID dan BeritaHaji.id.
Menyeimbangkan Keluarga dan Pendidikan
Di tengah kesibukannya menyelesaikan disertasi, Arief juga harus menyeimbangkan waktu antara keluarga dan pekerjaan. Ibunya yang menderita penyakit komplikasi sering dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Arief selalu mendampingi proses perawatan tersebut. Waktu yang dihabiskan di rumah sakit tidak terbuang sia-sia; ia membawa laptopnya untuk menyelesaikan bagian-bagian disertasi sembari menjaga ibunya. “Sebagian besar disertasi saya kerjakan di ruang geriatri RS Kariadi. Saat menunggu ibu, saya memastikan tetap produktif,” tuturnya.
Meski begitu, Arief memiliki harapan yang sangat mendalam. Ia ingin ibunya bisa menyaksikan momen promosi doktor yang telah ditunggu-tunggu. “Harapan saya, ibu bisa menyaksikan promosi doktor ini. Namun, Allah memiliki rencana lain. Setahun lalu, ibu telah berpulang,” ungkapnya dengan suara bergetar. Gelar doktor yang kini disandangnya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pencapaian akademik. “Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibunda yang luar biasa,” lanjutnya, menahan air mata.
Ujian Terbuka dan Disertasi yang Menginspirasi
Arief berhasil meraih gelar S3 setelah mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo pada 30 September 2026 dengan nilai hampir sempurna, yaitu 3,98. Ujian tersebut dipimpin oleh Rektor UIN Walisongo, H. Musahadi. “Ia resmi menyandang gelar Doktor Studi Islam dan menjadi doktor ke-456 yang lulus dari UIN Walisongo,” tambah Musahadi.
Dalam ujian promosi doktornya, Arief mempertahankan disertasi berjudul “Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan”. Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., sebagai ketua sidang dan penguji, didampingi oleh Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag., sebagai sekretaris sidang. Promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., dengan ko-promotor Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag.
Menjawab Tantangan Pendidikan di Perkotaan
Penelitian Arief berangkat dari fenomena penurunan jumlah siswa di Madrasah Ibtidaiyah di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Menariknya, beberapa MI di Kota Semarang justru menunjukkan pertumbuhan yang positif. Arief melakukan penelitian multisitus di MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang. “Masyarakat perkotaan kini tidak lagi memilih madrasah hanya berdasarkan faktor agama atau lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga,” jelasnya.
- Faktor mutu pendidikan
- Pelayanan yang baik
- Keamanan lingkungan
- Komunikasi yang efektif
- Reputasi lembaga pendidikan
Temuan ini kemudian dihubungkan dengan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (STP) dan bauran pemasaran 7P. Menurut Arief, kedua pendekatan ini harus berjalan seiring agar madrasah tidak hanya dikenal tetapi juga mampu memenuhi ekspektasi masyarakat. “Urban Marketing bukan sekadar promosi untuk menarik siswa baru, tetapi juga upaya untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas dan profesional, sambil tetap berakar pada nilai-nilai Islam,” jelasnya.
Model Pemasaran yang Inovatif
Dari penelitiannya, Arief merumuskan sebuah kebaruan yang disebut “Urban-Spiritual Resonance Model”. Model ini menggabungkan pendekatan pemasaran modern dengan nilai spiritual yang menjadi identitas madrasah. Model ini menghasilkan empat tipologi pemasaran madrasah yang dapat diadaptasi sesuai dengan karakter masyarakat perkotaan:
- Professional-Premium: Madrasah yang menekankan profesionalisme, layanan unggul, dan citra kelembagaan yang kuat.
- Balanced-Moderate: Madrasah yang memadukan mutu akademik, pendidikan karakter, dan keterjangkauan layanan.
- Achievement-Inclusive: Model yang mengutamakan prestasi akademik dan nonakademik, namun tetap inklusif bagi semua lapisan masyarakat.
- Grassroots-Authentic: Madrasah yang berfokus pada kedekatan sosial, budaya lokal, dan nilai-nilai keagamaan yang hidup di lingkungan madrasah.
Arief menekankan bahwa setiap madrasah tidak harus menjadi serupa; mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter dan kekuatan masing-masing. Penelitian Arief juga menemukan fenomena Demand Surplus Indicator, termasuk sistem inden pendaftaran, loyalitas keluarga lintas generasi, dan rekomendasi orang tua yang berkembang secara organik, termasuk melalui platform digital.
Mewujudkan Pendidikan yang Berkualitas
Menurut Arief, promosi yang efektif hanya akan tercapai apabila diiringi dengan mutu layanan dan kepercayaan masyarakat. “Madrasah yang sukses bukanlah yang paling gencar berpromosi, tetapi yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten,” pungkasnya.
Pandangan Rekan-rekan Terhadap Arief
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Muhyar Fanani, sangat mengapresiasi semangat dan kegigihan Arief dalam menempuh pendidikan doktoralnya. Ia menilai Arief sebagai sosok pembelajar sejati yang mampu menjadikan setiap fase kehidupannya sebagai kesempatan untuk berkembang. “Arief adalah pembelajar sejati yang mengamalkan prinsip bahwa seorang intelektual berbicara melalui tulisan,” ujar Muhyar.
Dia juga mencatat bahwa kemampuan literasi dan menulis Arief di atas rata-rata mahasiswa lainnya, menjadikannya modal penting untuk memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat melalui madrasah dan pendidikan. “Saya yakin, Dr. Arief akan memberikan dampak yang luas di masyarakat melalui madrasah dan dunia pendidikan. Tantangan pendidikan selalu ada, dan selama masih ada manusia, pendidikan akan terus dibutuhkan,” tambahnya.
Menurut Muhyar, meski perubahan zaman dapat memengaruhi pendekatan pendidikan, esensi pendidikan tetap sama, yaitu membentuk individu yang berakhlak dan bijaksana dalam menjalani kehidupannya. “Mungkin cara kita mengajarnya akan berubah, namun prinsip dasarnya tetap sama: membentuk akal budi anak manusia agar dapat menjalani hidup dengan bijaksana,” tutupnya.
➡️ Baca Juga: Bau Matahari dan Bau Acem pada Anak Aktif: Panduan Memilih Produk Perawatan yang Tepat
➡️ Baca Juga: Kunci Sukses Atlet Indonesia: Peran Penting Dukungan Swasta dalam Prestasi Olahraga




