
— Paragraf 1 —
Valve Performing Right Society – Belum juga lewat dua minggu sejak Jaksa Agung Negara Bagian New York mengumumkan gugatan terhadap Valve terkait loot box bernuansa judi di game seperti Counter-Strike 2, perusahaan pemilik platform layanan Steam tersebut tampaknya akan kembali menghadapi gugatan lain.
— Paragraf 2 —
Kali ini gugatan terbaru datang dari Inggris dimana perusahaan video game tersebut digugat oleh Performing Right Society karena diduga menggunakan karya musik milik para anggotanya tanpa izin. Seperti apa kronologi kasusnya?
— Paragraf 3 —
Valve Kena Tuntut Lagi, Kali Ini dari Pihak Industri Musik Soal Hak Cipta
— Paragraf 4 —
Berdasarkan informasi dari GamesIndustry, pihak Performing Rights Society (PRS) yang merupakan lembaga asal Inggris mengurus lisensi musik sekaligus penarikan dan pembagian royalti, menyatakan bahwa Steam milik Valve perlu memiliki lisensi khusus untuk game yang menggunakan musik dari artis yang haknya mereka kelola.
— Paragraf 5 —
PRS sendiri bekerja mewakili penulis lagu, komposer dan penerbit lagu setiap kali karya mereka diputar di ruang publik, disiarkan atau diperdengarkan lewat layanan streaming. Mereka juga mengklaim sudah bertahun-tahun mencoba membuka komunikasi dengan Valve, tetapi tidak pernah mendapat respon yang memadai.
— Paragraf 6 —
Dan Gopal selaku Chief Commercial Officer PRS, menyampaikan dalam pernyataannya bahwa sejak perusahaan video game ini meluncurkan Steam pada 2003, mereka belum pernah mengantongi lisensi untuk menggunakan hak-hak yang dikelola PRS atas nama para penulis lagu, komposer dan penerbit lagu.
— Paragraf 7 —
Gugatan akan Tetap Berjalan
— Paragraf 8 —
Gopal menegaskan bahwa PRS tidak gegabah dalam menempuh jalur hukum, namun ketika tindakan sebuah bisnis dinilai menggerus prinsip-prinsip perlindungan hak tersebut, PRS merasa punya tanggung jawab untuk bertindak.
— Paragraf 9 —
Proses gugatan ini akan tetap berjalan kecuali Valve mau berdialog secara konstruktif dan mengambil lisensi yang diperlukan untuk penggunaan katalog PRS, baik untuk pemakaian yang sudah terjadi sebelumnya maupun untuk ke depannya.
— Paragraf 10 —
Perusahaan milik Gabe Newell itu tentu akan berargumen bahwa urusan hak cipta seperti itu seharusnya sudah dibereskan oleh para studio dan publisher game. Di banyak negara, hal semacam ini kemungkinan tidak jadi masalah besar, tapi undang-undang di Inggris bisa cukup berbeda hingga di titik berpotensi memicu sengketa hukum yang serius.
— Paragraf 11 —
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Valve atau artikel lainnya dari Arif Gunawan. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.
➡️ Baca Juga: Kasus Campak di Jawa Barat Melonjak, Warga Diminta Waspada Penularan Saat Mudik Lebaran 2026
➡️ Baca Juga: Optimalisasi SEO: Meraih Sukses dan Lancar Rejeki Melalui Rilis Album Perang Sarung Gajah Moshing




